Postingan

Elegi Akar yang Terlupakan

Gambar
  Lampau telah terperenyak segenap kisah telah tenggelam  bersama zaman  jiwa sejarah telah gugur tanpa mengantongi warisan  para nenek moyang  dan meninggalkan kesan yang berharga bagi asmaraloka Kini zaman modern menguliti babad riwayat budaya seperti terhuyung dalam lubang waktu seolah ditelan pusaran trend yang pernah datang teramat rumit melukis kembali fragmen yang tenggelam bagai catatan yang pudar dari dinding ingatan  menghilang sebagai retak dari detak pada setiap banyak jejak kenangan Melantunkan syair jawa memenuhi  membangung kembali warisan yang terkubur Sidoarjo, 2026

Gema di Tubuh Waktu

Gambar
Singgah pada tempat lapang tertambat pada bingkai indah menyemai usaha di dalamnya, dan menghidu kreasi empati para pejuang bangsa.  Adalah kita, pejuang dari tubuh waktu kini, di tanah yang rawat keringat dan doa menghirup napas zaman membawa wangi cinta untuk ibu pertiwi Sidoarjo, 2026

Bara di Nadi Parahyangan

Gambar
Di bawah langit parahyangan, Tuturan tak suah leungit, Dada yang selalu berkobar, Membakar sepi, menantang batas.   Saban tetes yang terhuyung Menjadi bukti paling luhur, nan Penat rangka yang abadi, takkan Ragrag dengan mudah   Di saban langkah dampal, Terdengar degup perubahan, hidup sebongkah bara dalam denyut nadi, yang tak kenal padam.  Sidoarjo, 2026        

Perjuanganku dengan Selembar Kertas Tipis Menjadi tak Terhingga

Gambar
  Para sajak kini berbaris pada tempatnya Mengapitkan diri mereka untuk menjadi sebuah kalimat Dawat hitam yang rapi memenuhi sebuah lembaran Tak ada satupun gaung yang keluar Benda Panjang menari dan terus menari Di atas selembar kertas   Seolah tak akan pernah berhenti Dari arah jendela Sang Mentari tak henti tersenyum padanya Berharap apapun hal yang ia lakukan Akan beruntung di kemudian hari Tanpa harapan nasib yang lusuh akan datang   Mentari mulai redup Tergantikan oleh sang penguasa malam Segenap lembaran kertas menangis Terbuang sia-sia Itulah isi dari mereka yang gagal Pikiran yang seolah tenggelam entah kemana   Kini, sejuta pikiran Telah berenang di dalam kepalanya Bagai laut Yang tak pernah bisa di hitung Perjalanan Panjang sudah terbayarkan Setiap doa-doa yang dilantunkan   Sudah terjawab Menjerat segenap kemampuan Jangan biarakan kemampuan kita Lari begitu saja Dengan tabah Usaha tak...

ERANGAN DI UJUNG NEGRI

Gambar
  Jeritan yang tak lagi akan terdengar Ketimpangan di antara negri yang berbeda Cahaya yang tak kunjung menerangi asa Tak ada bayaran atas usaha   Kerusakan di saban jalan Merawat sandang yang lusuh Telapak dilumuri lumpur yang keruh Hanya pengembala sapi jalanan   Upah yang tak seberapa berarti Melawan negri dengan angka yang tinggi   Percaya, Mereka hanya ingin meraih hak Memperjuangkan segala asa Walau harus mempertimbangkan secarik kertas bercetak   Keringat yang terus menyelimuti dahi Kepegalan yang takkan ada habisnya   Hidup di negri yang indah Bersama erangan para Masyarakat yang bersumpah   Mereka hanya ingin kebebasan Mereka hanya ingin ketenangan     Dari judul teruslah bodoh jangan pintar, mereka yang berusaha menggenggam hak sendiri nan melawan pemimpin yang kokoh akan ketidakadilan. Perlawanan dalam meja bundar yang tak pernah usai   Masyarakat yang tak perna...

RAHIM SEMESTA

Gambar
Dari jiwa terdalam semesta, ekuinoks yang memegang tampuk langit Nebula yang menjadi aksara berwarna   Bintang yang menyusup event horizon Menebas kegelapan yang lengkara, Nyata, timbul supernova yang bersisa bintang neutron   Pulsar berputar dengan denyut cahaya Menempati kepingan jiwa neutron   Planet berputar dalam harmoni Mengikuti irama gravitasi Komet menorah garis cahaya, Layaknya pena menulis puisi semesta.   Kontelasi menuliskan dengeng purba Titik Cahaya ditautkan oleh imajinasi   Inilah Semesta, Yang hidup bersama rahim yang abadi.